PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: KrediOne Dorong Literasi-Inklusi Keuangan Digital dalam Seminar di Universitas Jambi

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Patricia Jones

KrediOne Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Digital dalam Seminar di Universitas Jambi

Key Strategy -

Pada tengah momentum percepatan pertumbuhan ekonomi dan inovasi layanan keuangan digital, ketersediaan literasi keuangan serta inklusi finansial menjadi pondasi kritis untuk memastikan masyarakat Indonesia mampu memanfaatkan teknologi dalam keuangan secara bijaksana. Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional yang digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi, dengan tema "State, Fintech, and Digital Society: Percepatan Transformasi Ekosistem Digital Indonesia." Kegiatan tersebut bertujuan menciptakan ruang dialog dan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, seperti regulator, sektor industri, institusi pendidikan, serta generasi muda, untuk menggali dinamika perubahan dan potensi ekosistem digital yang terus berkembang.

Pengisi Seminar dan Tujuan Utama

Seminar yang berlangsung pada 18 Juni 2026 ini dihadiri oleh beberapa tokoh penting, termasuk Asisten Manajer Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi Romi Septriandi, Direktur Utama KrediOne serta Ketua Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah, dan Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi Rio Yusri Maulana. Mereka hadir untuk membahas isu-isu terkini mengenai peran fintech dalam mendorong inklusi keuangan dan kesadaran finansial masyarakat.

Kuseryansyah, dalam sambutannya, menekankan bahwa ekosistem fintech tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada komitmen kolaborasi antara berbagai pihak. "Transformasi digital tidak hanya tentang adopsi teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat menciptakan akses yang lebih luas terhadap peluang ekonomi," jelasnya dalam sesi pemaparan. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa keberhasilan inovasi digital dalam keuangan memerlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, sektor industri, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

“Karena itu, pembangunan ekosistem digital yang sehat membutuhkan kolaborasi yang erat antara regulator, industri, institusi pendidikan, dan masyarakat agar inovasi dapat tumbuh seiring dengan perlindungan konsumen dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Kuseryansyah.

Kuseryansyah juga menyoroti peran Pinjaman Daring (Pindar) dalam memperluas akses keuangan bagi masyarakat, terutama bagi individu dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih kesulitan mendapatkan layanan keuangan tradisional. Ia menjelaskan bahwa Pindar merupakan alat strategis untuk mengatasi kesenjangan akses finansial, tetapi pertumbuhan industri fintech harus diiringi oleh peningkatan tata kelola, perlindungan konsumen, serta kesadaran masyarakat tentang penggunaan layanan digital secara bertanggung jawab.

Langkah KreditOne dalam Membangun Ekosistem Keuangan Digital

Sebagai salah satu penyelenggara Pindar di Indonesia, KrediOne secara aktif berpartisipasi dalam upaya memperluas akses pendanaan yang berkelanjutan. Perusahaan ini telah melakukan berbagai inisiatif selama kurun waktu 2019 hingga Mei 2026, dengan menyalurkan dana sebesar Rp17,6 triliun kepada berbagai kalangan masyarakat di berbagai daerah. Kinerja ini mencerminkan komitmen KrediOne dalam mendorong inklusi keuangan digital, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekonomi lokal.

Dalam rangka memastikan layanan keuangan digital dapat mencapai manfaat maksimal, KrediOne terus berupaya meningkatkan literasi keuangan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan melalui berbagai program edukasi, pelatihan, serta kolaborasi dengan institusi pendidikan untuk memperluas wawasan tentang manfaat dan risiko teknologi keuangan. Kuseryansyah menegaskan bahwa kesadaran masyarakat merupakan kunci untuk menghindari risiko penipuan atau penggunaan layanan keuangan secara tidak bijak.

Selain itu, KrediOne juga fokus pada penguatan tata kelola dalam industri fintech. Perusahaan ini menggarisbawahi pentingnya transparansi dan kepercayaan publik sebagai fondasi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan digital. "Inklusi keuangan tidak hanya tentang memberikan akses, tetapi juga tentang memastikan pengguna mampu memahami dan mengelola dana dengan baik," tambahnya.

Kegiatan seminar tersebut juga menjadi wadah untuk mendiskusikan tantangan dan peluang dalam transformasi ekosistem digital. Romi Septriandi, dari OJK Jambi, menyoroti peran pemerintah dalam menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan fintech sekaligus melindungi masyarakat dari risiko yang mungkin muncul. Ia menjelaskan bahwa kebijakan yang tepat dapat membantu mengoptimalkan potensi teknologi keuangan tanpa mengorbankan perlindungan konsumen.

Rio Yusri Maulana, sebagai ketua jurusan, mengatakan bahwa seminar ini menjadi wujud keberhasilan kemitraan antara universitas dan sektor keuangan. "Kolaborasi seperti ini sangat penting untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki pemahaman mendalam tentang peran teknologi dalam keuangan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa universitas memiliki tanggung jawab untuk mengintegrasikan topik digital finance ke dalam kurikulum, sehingga mahasiswa dapat menjadi bagian dari solusi inovasi ekonomi di masa depan.

Dalam konteks ekosistem keuangan digital yang semakin kompleks, KrediOne mengakui bahwa keterlibatan masyarakat dan pelaku UMKM sangat krusial. Perusahaan ini menawarkan berbagai produk pendanaan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari pinjaman kredit hingga layanan digital lainnya. Kuseryansyah menjelaskan bahwa inovasi seperti Pindar tidak hanya memberikan akses keuangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi kelompok yang sebelumnya belum terjangkau oleh layanan perbankan tradisional.

Perkembangan Ekosistem Digital di Indonesia

Transformasi digital di Indonesia telah mempercepat perubahan struktur perekonomian. KreditOne dan AFPI menganggap peran fintech sebagai bagian penting dari inovasi ini. Sebagai bagian dari asosiasi fintech, KreditOne berkomitmen untuk berperan aktif dalam mengembangkan industri keuangan digital yang inklusif.

Kuseryansyah menambahkan bahwa literasi keuangan digital adalah kunci untuk memastikan masyarakat tidak hanya bisa mengakses layanan keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara efektif. "Kami berupaya mengedukasi masyarakat agar mereka dapat memahami risiko dan manfaat layanan digital keuangan, sehingga pengambilan keputusan ekonomi menjadi lebih terarah dan berkelanjutan," jelasnya.

Seminar Nasional ini diharapkan dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi dan inklusi keuangan digital. Dengan adanya kolaborasi antara lembaga pendidikan, regulator, serta industri, KreditOne dan mitranya berharap dapat menciptakan lingkungan keuangan yang lebih adil dan inklusif.

Pada akhir acara, para peserta menyampaikan apresiasi atas inisiatif KrediOne dalam membuka akses keuangan kepada masyarakat yang kurang terlayani. Mereka menilai seminar ini menjadi langkah penting untuk menggabungkan teori dan praktik dalam menghadapi tantangan ekonomi digital. KrediOne sendiri berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan keuangan digital, sekaligus memastikan perlindungan konsumen dan keberlanjutan pertumbuhan industri.

Sebagai langkah lanjutan, KrediOne berencana melakukan kegiatan serupa di berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan ini ingin memperluas dampak program literasi keuangan digital, terutama di daerah-daerah yang masih kurang terjangkau oleh layanan keuangan tradisional. Kuseryansyah menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak bisa dicapai tanpa partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. "Kami berharap masyarakat bisa terlibat langsung dalam proses transformasi ini, sehingga ekosistem digital dapat menjadi alat yang sebenarnya untuk meningkatkan kesejahteraan bersama," pungkasnya.