Key Strategy: Edukasi Keuangan Pindar Mengajar, Kredit Pintar & AFPI Hadir di Universitas Islam Malang
Edukasi Keuangan Pindar Mengajar, Kredit Pintar & AFPI Hadir di Universitas Islam Malang
Key Strategy - MALANG - Sebagai upaya memperkuat kesadaran masyarakat tentang pengelolaan keuangan, Kredit Pintar dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) meluncurkan program edukasi bertajuk "Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi" di Universitas Islam Malang pada Rabu, 24 Juni. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang penggunaan dana secara bijak, serta membekali mereka dengan konsep keuangan yang dapat berdampak positif pada masa depan. Dalam acara yang dihadiri ratusan peserta, perusahaan fintech dan asosiasi ini berbagi wawasan mengenai cara mengatur pengeluaran, mengurangi ketergantungan pada utang, serta membangun kebiasaan tabungan sejak dini.
Program Edukasi Finansial Sebagai Dasar Kemandirian
Kepala Brand & Communications Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, menekankan bahwa keuangan yang baik tidak hanya tentang jumlah uang yang dimiliki, tetapi bagaimana mengalokasikannya secara efektif. "Pengelolaan keuangan yang tepat adalah kunci untuk mencapai stabilitas finansial, terutama bagi mahasiswa yang sering menghadapi tekanan biaya hidup dan pengeluaran yang tidak terencana," ujarnya. Ia menambahkan bahwa program ini dirancang untuk membentuk pola pikir yang kritis dan bertanggung jawab, agar peserta mampu mengambil keputusan keuangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan sekarang, tetapi juga menguntungkan jangka panjang.
Di tengah berbagai tantangan finansial yang dihadapi mahasiswa, pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya tergantung pada jumlah uang saku, tetapi lebih pada cara mengalokasikan dana secara efektif. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak mahasiswa memahami pentingnya manajemen keuangan sejak awal sebagai pondasi menuju masa depan yang lebih stabil,
Metode Alokasi Dana untuk Pengelolaan yang Terstruktur
Salah satu teknik yang diperkenalkan dalam sesi edukasi adalah metode 50/30/20, yang menjelaskan bagaimana membagi pengeluaran menjadi tiga kategori utama. Metode ini mengharuskan 50 persen dari penghasilan digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, dan transportasi. Sementara 30 persen dialokasikan untuk gaya hidup, termasuk hiburan, belanja, atau keinginan pribadi. Bagian terakhir, 20 persen, harus diperuntukkan untuk tabungan atau investasi.
Metode ini disebut sebagai alat sederhana tetapi efektif untuk membentuk kebiasaan finansial yang sehat. Dengan memahami distribusi dana ini, peserta diharapkan dapat menghindari kebiasaan konsumsi berlebihan, serta menabung untuk keperluan mendesak atau jangka panjang. "Kami berharap metode ini dapat menjadi panduan praktis bagi mahasiswa dalam merencanakan keuangan, terutama di tengah keterbatasan dana yang sering mereka alami," kata Puji.
Penekanan pada Pemisahan Kebutuhan dan Keinginan
Sebagai bagian dari materi edukasi, peserta juga diajarkan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dalam sesi diskusi, mereka diberi contoh kasus sehari-hari, seperti memilih antara membeli buku pelajaran atau makan di restoran favorit. "Kebutuhan adalah hal yang tidak bisa dipotong, sementara keinginan bisa ditunda atau diganti dengan pilihan yang lebih ekonomis," jelas narasumber dari AFPI.
Kemampuan menilai setiap keputusan keuangan, yaitu apakah pengeluaran tersebut memberikan manfaat jangka panjang atau hanya memenuhi kepuasan sementara, menjadi poin utama dalam program ini. Peserta dianjurkan untuk mengevaluasi kebutuhan sebelum melakukan transaksi, sehingga tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif. "Dengan pola ini, mahasiswa bisa meminimalkan risiko keuangan, seperti utang berlebihan atau pengeluaran tidak terkendali," tambah Puji.
Pelatihan tentang Pinjaman Digital dan Keamanan Finansial
Di sisi lain, edukasi tentang penggunaan pinjaman daring juga menjadi bagian penting dari program ini. Peserta diberi penjelasan tentang mekanisme peminjaman online, mulai dari proses pengajuan hingga pengaturan cicilan. Narasumber menjelaskan bahwa pinjaman digital bisa menjadi solusi dalam situasi darurat, tetapi juga berisiko jika tidak dikelola dengan bijak.
Acara ini juga mengajak peserta untuk memahami pentingnya keamanan dalam menggunakan layanan keuangan digital. Diantaranya, mahasiswa diberi tips tentang cara memilih platform pinjaman yang terpercaya, serta menghindari skema investasi atau cicilan yang tidak jelas. "Kami ingin menjaga agar peserta tidak hanya mengetahui cara mengakses dana, tetapi juga memahami dampaknya terhadap keuangan pribadi," tutur salah satu pembicara.
Langkah Awal Membangun Kemandirian Finansial
Edukasi keuangan yang disampaikan dalam program ini diperkirakan bisa membentuk pola hidup yang lebih teratur dan matang. Selama acara yang berlangsung selama tiga jam, peserta diajak untuk melakukan simulasi pengelolaan dana dan berdiskusi