Important Visit: UT PKM Internasional, Berdayakan Guru Sekolah Indonesia Kota Kinabalu
UT PKM Internasional: Meningkatkan Kapasitas Guru untuk Membentuk Karakter Anak Pekerja Migran di Sabah
Important Visit - JAKARTA – Universitas Terbuka (UT) kembali mengadakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Internasional secara daring, dalam upaya memperkuat pembelajaran karakter bagi anak-anak pekerja migran Indonesia yang berada di Kota Kinabalu, Malaysia. Acara ini diadakan melalui platform Zoom Meeting dan menggandeng Sekolah Indonesia Kota Kinabalu sebagai mitra utama. Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah "Membawa Nilai ke Batas Negara: Meningkatkan Kemampuan Pendidik untuk Membentuk Karakter Anak Pekerja Migran di Sabah, Malaysia".
Kolaborasi untuk Membangun Kompetensi Pendidik
PKM Internasional ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para guru sebagai pelaku utama dalam membentuk nilai-nilai karakter, patriotisme, dan integritas bagi peserta didik. Selain itu, program ini juga bertujuan memperkuat peran pendidik dalam merespons kebutuhan pendidikan anak-anak pekerja migran yang tinggal di luar negeri. Dalam sambutannya, Ketua Kegiatan PKM, Siti Utami Dewi Ningrum, S.S., M.A., menjelaskan bahwa kolaborasi ini diharapkan bisa menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna bagi anak-anak yang diasuh oleh para guru di Kota Kinabalu.
“Kegiatan ini dirancang agar guru dapat menjadi agen utama dalam menanamkan nilai-nilai karakter, kebangsaan, dan integritas kepada anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia,” ujar Siti Utami, Kamis (18/6).
Menurutnya, upaya pemberdayaan guru sangat penting karena mereka menjadi pilar utama dalam membentuk identitas dan kecakapan sosial peserta didik. "Dengan memperkuat kompetensi pendidik, diharapkan anak-anak pekerja migran dapat memiliki fondasi moral dan kebangsaan yang kuat, meskipun tinggal di luar negeri," tambahnya.
Kehadiran para peserta dalam acara ini mencapai 75 orang, yang terdiri dari guru-guru Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, fasilitator, serta tim PKM dari Universitas Terbuka. Rangkaian kegiatan ini melibatkan berbagai sesi diskusi, workshop, dan peninjauan metode pengajaran yang efektif untuk menjangkau anak-anak yang tinggal di lingkungan asing. Selain itu, acara juga menyajikan materi tentang pengelolaan emosi dan komunikasi kultural yang relevan dalam konteks pendidikan di Sabah.
Acara yang berlangsung selama satu hari ini dihadiri oleh sejumlah tokoh akademik dari UT, termasuk Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan Pembelajaran, dan Kerja Sama Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP), Anto Hidayat, S.IP., M.Si. serta Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UT, Prof. Dr. Ucu Rahayu, M.Sc. Kedua narasumber tersebut juga turut membuka acara secara resmi, menegaskan pentingnya kerja sama antara institusi pendidikan dalam memberikan layanan edukasi yang berkualitas.
Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Sahyuddin, S.Pd., M.A. TESOL, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan PKM Internasional ini. Menurutnya, tema yang dipilih sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi guru di Kota Kinabalu dalam menjaga keberlanjutan pendidikan karakter bagi anak-anak dari komunitas pekerja migran. “Program ini membantu kami mengatasi kesulitan dalam menyampaikan nilai-nilai kebangsaan dan keterampilan sosial kepada peserta didik yang tinggal di luar negeri,” kata Sahyuddin.
Langkah Strategis dalam Pendidikan Karakter
PKM Internasional ini dianggap sebagai bagian dari upaya jangka panjang UT dalam meningkatkan kualitas pendidikan di luar negeri. Sebagai universitas yang memiliki fokus pada akses pendidikan terbuka, UT terus berupaya mengembangkan program yang dapat mengakomodasi kebutuhan pendidik dan peserta didik di berbagai wilayah, termasuk Sabah. Koordinasi dengan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu diharapkan bisa menjadi contoh kolaborasi yang berkelanjutan antara institusi pendidikan nasional dan lokal.
Dalam sambutan resmi, Prof. Ucu Rahayu menekankan bahwa pendidikan karakter merupakan salah satu aspek kritis dalam membentuk individu yang tangguh dan bermoral. “Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan wawasan baru bagi guru-guru tentang bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam proses pembelajaran sehari-hari,” tuturnya.
Siti Utami juga menjelaskan bahwa kegiatan ini menggabungkan pengalaman praktis dari para peserta dengan pendekatan teoritis yang dirancang oleh tim PKM UT. “Kolaborasi ini memungkinkan kami berbagi strategi dan metode yang telah teruji, serta menyesuaikan dengan konteks lokal di Kota Kinabalu,” imbuhnya.
Kegiatan PKM Internasional ini diharapkan bisa menjadi jembatan antara universitas dan sekolah-sekolah di luar negeri. Dengan menggali potensi para pendidik, UT ingin memastikan bahwa anak-anak pekerja migran Indonesia tetap memiliki akses terhadap pendidikan yang lengkap, termasuk aspek moral dan nilai kebangsaan. Tercatat, sejumlah besar peserta aktif menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti acara ini, yang dianggap sebagai kesempatan berharga untuk memperluas wawasan dan keterampilan profesional.
Sementara itu, Anto Hidayat menyoroti pentingnya pendekatan partisipatif dalam program PKM. “Kami mendorong guru untuk tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pelaku yang aktif dalam membangun identitas dan kecakapan sosial peserta didik,” katanya. Ia menambahkan, acara ini juga menjadi wadah untuk berdiskusi tentang tantangan pendidikan di era globalisasi, serta solusi yang bisa diterapkan di lapangan.
Sebagai bagian dari program kerja sama internasional, PKM ini diharapkan dapat menjadi model keberhasilan dalam pembelajaran berbasis nilai. Tidak hanya memperkuat kapasitas guru, acara ini juga membuka peluang untuk membangun jaringan pendidik di berbagai negara, sehingga bisa saling berbagi pengalaman dan metode pendidikan yang efektif. Dengan semangat kolaborasi, UT berkomitmen untuk terus mendorong pendidikan karakter sebagai fondasi pembelajaran yang utama.
Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Sahyuddin, mengakui bahwa kegiatan ini memberikan dorongan baru bagi sekolah dalam menjaga keberlanjutan pendidikan karakter. “Tema ini sangat sesuai dengan tantangan yang kami hadapi, terutama dalam menghadirkan kurikulum yang mampu mengakomodasi latar belakang budaya dan sosial anak-anak pekerja migran,” jelasnya. Ia menambahkan, program ini juga membantu sekolah dalam memperkuat kemitraan dengan institusi pendidikan tinggi, sehingga bisa menghasilkan kebijakan pendidikan yang lebih holistik.
Dengan menghadirkan platform digital, UT berhasil mengakomodasi partisipasi dari berbagai pihak, termasuk guru dan fasilitator yang berada di berbagai lokasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga bisa diperkuat melalui kerja sama yang melibatkan berbagai stakeholders. Dengan membangun kekuatan pendidik, UT berharap bisa membantu anak-anak pekerja migran Indonesia tetap merasa terhubung dengan budaya dan nilai-nilai kebangsaan mereka.
Selain fokus pada pemberdayaan guru, kegiatan ini