PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Important News: Pertamax Tembus Rp16 Ribu, Driver Ojol Cemas, Berat

Published Juni 11, 2026 · Updated Juni 11, 2026 · By Anthony Lopez

Pertamax Tembus Rp16 Ribu, Driver Ojol Cemas, Berat

Important News - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi perhatian publik setelah Pertamina Patra Niaga mengumumkan perubahan tarif. Dalam pengumuman terbaru, harga Pertamax (RON 92) meningkat dari sebelumnya Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan harga dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter. Dalam hal ini, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah, yakni Pertalite dijual dengan harga Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Kenaikan tarif ini langsung memengaruhi operasional para pengemudi ojek online (ojol), yang mengkhawatirkan adanya dampak berantai terhadap biaya bahan bakar kendaraan mereka.

Pengaruh Harga BBM Nonsubsidi Terhadap Biaya Operasional

Pengemudi ojol di Kota Bandung, seperti Fahmi, merasa terbeban dengan kenaikan harga Pertamax. "Saya khawatir, takut kenaikan harga Pertalite akan ikut terjadi," ujarnya saat ditemui di Jalan Burangrang, Kamis (11/6). Fahmi mengatakan, biaya bahan bakar yang sudah mahal sebelumnya kini semakin mengkhawatirkan. Ia menjelaskan bahwa sehari-hari, ia menghabiskan Rp40 ribu hingga Rp45 ribu untuk mengisi bahan bakar kendaraannya. Dengan harga Pertamax yang naik, ia merasa kekhawatiran akan meningkatnya harga Pertalite menjadi lebih besar, terutama karena BBM subsidi ini menjadi andalan bagi para pengemudi ojol.

"Iya, saya khawatir. Takut lagi terjadi kenaikan seperti sebelumnya. Kalau bisa jangan naik, tetapi turun harganya," tutur Fahmi, seorang pengemudi ojol yang sudah menekuni profesi selama beberapa tahun.

Kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu inflasi di sektor transportasi. Dengan Pertalite yang harganya tetap stabil, banyak pengemudi ojol memilih BBM subsidi ini untuk mengurangi beban biaya. Namun, jika Pertalite juga naik, operasional mereka bisa menjadi lebih berat. Fahmi mengungkapkan, ia tidak ingin terjadi kenaikan harga yang serupa dengan masa lalu, di mana biaya hidup para pekerja transportasi meningkat drastis.

Harga BBM Nonsubsidi Memicu Kecemasan di Kalangan Pengemudi

Kenaikan harga BBM nonsubsidi menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya penyesuaian harga BBM subsidi. Sementara itu, para pengemudi ojol masih berharap bahwa Pertalite tidak mengalami kenaikan signifikan. "Kalau Pertalite naik, saya rasa operasional akan lebih berat lagi. Saya takut biaya pengisian bahan bakar bisa melebihi anggaran sehari-hari," katanya. Fahmi menambahkan bahwa biaya bahan bakar kendaraannya sebelumnya sudah memakan sebagian besar penghasilannya, sehingga kenaikan harga BBM bisa berdampak besar terhadap keuangan mereka.

Berita kenaikan harga BBM nonsubsidi ini segera menyebar ke berbagai kalangan. Para pekerja transportasi, khususnya pengemudi ojol, menganggap ini sebagai ancaman terhadap stabilitas pendapatan mereka. Mereka mengkhawatirkan bahwa kenaikan harga bahan bakar akan memicu kenaikan biaya hidup secara umum, terutama karena biaya operasional kendaraan mereka sudah tinggi. Fahmi menjelaskan, ia rutin mengisi bahan bakar seharga Rp40 ribu hingga Rp45 ribu setiap hari, dan kenaikan Pertamax memperbesar beban tersebut.

Dalam jangka panjang, kenaikan harga BBM nonsubsidi bisa berdampak pada harga bahan baku lainnya. Biaya produksi transportasi yang meningkat berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Selain itu, harga bahan bakar yang lebih tinggi bisa mendorong perusahaan transportasi untuk menaikkan tarif layanan mereka, sehingga memperparah tekanan ekonomi bagi pengguna layanan ojol. Pemerintah dan Pertamina sebelumnya berjanji akan memantau kondisi pasar, tetapi para pengemudi ojol mengharapkan langkah-langkah yang lebih tepat untuk mengurangi beban.

Dari sisi ekonomi, kenaikan harga BBM nonsubsidi menunjukkan tekanan pada sektor logistik dan transportasi. Perusahaan transportasi yang bergantung pada bahan bakar ini mungkin terpaksa menyesuaikan biaya operasionalnya. Hal ini juga bisa berdampak pada harga jasa transportasi yang ditawarkan ke konsumen. Pada saat yang sama, pengguna ojol harus bersiap menghadapi kenaikan biaya yang mungkin terjadi, terutama jika Pertalite juga ikut naik.

Sebagai respon terhadap kenaikan harga Pertamax, para pengemudi ojol mulai mencari alternatif penghematan. Beberapa di antara mereka mempertimbangkan untuk beralih ke jenis bahan bakar lain, meskipun kenaikan harga Pertamax Green 95 sebelumnya sudah membuat keputusan tersebut lebih sulit. Fahmi mengatakan, ia berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan yang lebih stabil terhadap harga BBM subsidi agar kehidupan para pekerja transportasi tidak semakin berat.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini menjadi sorotan karena memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam sehari, para pengemudi ojol membutuhkan bahan bakar yang cukup untuk menunjang operasional mereka. Dengan harga Pertamax yang naik, mereka harus menghitung pengeluaran lebih teliti. Selain itu, kenaikan ini juga menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan bakar akan terus berlanjut, memicu kekhawatiran terhadap inflasi di sektor lain.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News.