PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BI Catat Uang Beredar Tembus Rp 10,4 Triliun pada Mei 2026

Published Juni 24, 2026 · Updated Juni 24, 2026 · By Michael Taylor

BI Catat Uang Beredar Tembus Rp 10,4 Triliun pada Mei 2026

BI Catat Uang Beredar Tembus Rp 10 - Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan jumlah uang beredar dalam bentuk M2 di bulan Mei 2026 mencapai Rp 10.415,9 triliun, dengan peningkatan 10,8 persen secara tahunan (yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan lebih signifikan dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya, April 2026, yang hanya sebesar 9,2 persen (yoy). Pertumbuhan ini, kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramadan Denny Prakoso, terjadi karena adanya peningkatan kredit dan aktivitas keuangan yang dinamis di tengah pergerakan ekonomi nasional.

Perkembangan Uang Beredarsempit dan Uang Kuasi

Pertumbuhan M2 pada Mei 2026 didorong oleh kenaikan uang beredarsempit (M1) yang mencapai 15,3 persen (yoy) serta peningkatan uang kuasi sebesar 6,0 persen (yoy). M1, yang mencakup uang kartal dan deposito berjangka berjangka pendek, mengalami peningkatan lebih besar dibandingkan M2, menunjukkan kecenderungan meningkatnya likuiditas sementara di sektor keuangan. Sementara itu, uang kuasi, yang mencakup instrumen keuangan likuid seperti obligasi dan saham, tumbuh relatif stabil, mencerminkan aktivitas pasar modal yang terus berjalan.

“Pertumbuhan M2 Mei 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, April 2026, yang mencatat kenaikan sebesar 9,2 persen (yoy),” ujar Ramadan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (23/6).

Menurut laporan BI, faktor utama yang memicu peningkatan uang beredar adalah penyaluran kredit oleh perbankan dan inflasi pada tingkat yang terkendali. Kredit yang diberikan ke sektor swasta tumbuh 10,8 persen secara tahunan, meningkat dari pertumbuhan 9,4 persen pada April 2026. Pertumbuhan kredit ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor ekonomi dan kebijakan moneter yang diterapkan pemerintah. Namun, BI memastikan bahwa kredit yang dihitung dalam laporan ini hanya mencakup pinjaman langsung, bukan instrumen keuangan yang diperlakukan sebagai kredit, seperti surat berharga, tagihan akseptasi, dan tagihan repo.

Faktor Penyebab Pertumbuhan M2

Perkembangan M2 pada Mei 2026 dipengaruhi oleh sejumlah dinamika ekonomi, termasuk peningkatan aktivitas investasi dan konsumsi masyarakat. BI mengungkapkan bahwa penyaluran kredit kepada masyarakat mengalami peningkatan karena peningkatan permintaan pembiayaan di sektor usaha kecil dan menengah (UKM) serta sektor konsumer. Selain itu, peningkatan arus dana dari luar negeri juga berkontribusi pada kenaikan uang beredar, terutama melalui transaksi perdagangan dan investasi asing.

Sebagai tambahan, inflasi yang terkendali di bulan Mei 2026 memberikan ruang bagi peningkatan likuiditas. Meski tingkat inflasi tidak terlalu tinggi, stabilitas harga tetap menjadi faktor penting dalam memastikan keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar uang. BI mengatakan bahwa kenaikan M2 ini tidak menunjukkan gejala kepanikan keuangan, melainkan refleksi dari dinamika pasar yang normal.

Dalam laporan BI, disebutkan bahwa uang beredar dalam arti luas mencakup semua bentuk uang yang dapat digunakan untuk transaksi, seperti uang kartal, deposito berjangka, dan instrumen keuangan lainnya. Perkembangan ini juga terkait dengan peningkatan cadangan devisa negara, yang mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia. Selain itu, kebijakan moneter BI yang berhati-hati dalam mengatur suku bunga dan likuiditas menunjukkan upaya memastikan stabilitas nilai rupiah.

Analisis Perekonomian dari BI

Kenaikan M2 Mei 2026 menjadi indikator penting dalam memahami keadaan perekonomian Indonesia. BI menjelaskan bahwa pertumbuhan uang beredar tidak selalu langsung berkorelasi dengan inflasi, tetapi menjadi indikator untuk memantau aktivitas ekonomi dan kinerja sektor keuangan. Pertumbuhan M2 yang signifikan bisa berdampak pada permintaan konsumsi dan investasi, yang sejauh ini berjalan positif.

Menurut ekonomi BI, kenaikan uang beredar dalam Mei 2026 juga mencerminkan kebijakan fiskal pemerintah yang memperkuat belanja pemerintah dan investasi publik. Meski demikian, BI memperkirakan bahwa pertumbuhan M2 akan terus diawasi secara ketat untuk mencegah tekanan inflasi yang berlebihan. “BI terus mengambil langkah-langkah tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi,” tambah Ramadan Denny Prakoso dalam keterangannya.

Sementara itu, kredit yang diberikan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk tidak termasuk dalam kategori uang beredar yang dihitung dalam M2. Hal ini karena BI menekankan bahwa uang beredar dalam konteks ini hanya mencakup transaksi yang berdampak langsung pada masyarakat luas. Pertumbuhan kredit yang dimaksudkan dalam laporan BI hanya mencakup pinjaman kepada warga negara dan badan usaha yang berlokasi di dalam negeri.

Analisis BI juga menyoroti peran BI dalam mengelola sistem keuangan Indonesia. Dengan kenaikan M2 yang signifikan, BI diharapkan dapat menjaga kestabilan ekonomi melalui kebijakan yang sesuai. Selain itu, BI memastikan bahwa inflasi tetap terkendali, karena pertumbuhan uang beredar tidak melebihi kinerja sektor produksi dan konsumsi. Ini menjadi tantangan bagi para pelaku pasar untuk memastikan bahwa kebijakan moneter tetap berdampak positif pada perekonomian.

Pertumbuhan uang beredar dalam Mei 2026 juga menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian nasional semakin meningkat. Penyaluran kredit yang lebih tinggi berdampak pada pembentukan modal usaha dan peningkatan belanja konsumsi, yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Dengan jumlah uang beredar mencapai Rp 10.415,9 triliun, BI memperkirakan bahwa perekonomian Indonesia akan terus berkembang secara stabil di tengah tantangan global yang semakin dinamis.

Sebagai catatan tambahan, BI juga menegaskan bahwa pertumbuhan M2 pada Mei 2026 mencerminkan kebijakan moneter yang konsisten sepanjang tahun 2026. Dengan mempertahankan kebijakan yang memadai, BI berharap dapat menciptakan lingkungan keuangan yang sehat dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks ini, pengelolaan uang beredar menjadi salah satu alat utama untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah perubahan makroekonomi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News