Historic Moment: 20 Adegan Diperagakan dalam Rekonstruksi Pembunuhan Sekuriti Gedung di Surabaya
Rekonstruksi Pembunuhan Sekuriti Gedung di Surabaya Diperagakan 20 Adegan
Historic Moment - Unit Jatanras Sat Reskrim Polrestabes Surabaya melakukan rekonstruksi terhadap kasus pembunuhan Dekky Martyandi (48), seorang sekuriti yang bertugas di Graha Darmo Satelit, Sukomanunggal, Surabaya, pada Jumat (12/6) lalu. Aktivitas ini berlangsung di lokasi kejadian dan diawali oleh Kasubnit Jatanras Sat Reskrim, Ipda Yosan Bagus Danurwenda, dengan didampingi pihak kejaksaan. Keseluruhan proses rekonstruksi dimaksudkan untuk memperjelas alur peristiwa pembunuhan yang terjadi sebelumnya.
Proses Rekonstruksi Pembunuhan
Rekonstruksi ini melibatkan tersangka Oktio Agra (26), warga Sememi, Benowo, Surabaya, yang memainkan peran pelaku dalam memperagakan 20 adegan berbeda. Tersangka hadir di lokasi kejadian dengan mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye dan rompi merah. Petugas berpakaian seragam menggelandangnya ke area rekonstruksi. Dalam sesi tersebut, Oktio mengikuti petunjuk penyidik untuk meniru serangkaian peristiwa yang mengarah pada pembunuhan Dekky.
"Benar, ada 20 adegan yang diperagakan oleh pelaku berinisial OA," ujar Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Hadi Ismanto. Ia menjelaskan bahwa pemeragaan ini bertujuan memvalidasi kesaksian saksi dan memperkuat bukti-bukti yang telah dikumpulkan selama penyelidikan.
Proses rekonstruksi dimulai sekitar pukul 15.10 WIB dan berlangsung hingga pukul 16.40 WIB. Selama durasi tersebut, Oktio meniru tindakan-tindakan yang memicu kejadian maut tersebut. Aktivitas ini membantu penyidik menggambarkan pola kejahatan dan alur waktu yang mungkin terjadi, serta mengidentifikasi titik-titik kritis dalam investigasi.
Keterlibatan Pihak Kejaksaan
Pihak kejaksaan turut hadir dalam rekonstruksi untuk memastikan kesesuaian proses penyidikan dengan standar hukum. Para jaksa mengamati setiap adegan secara detail, termasuk kejadian kritis seperti saat Dekky ditemukan tewas setelah ditusuk oleh senjata tajam. Pemeragaaan 20 adegan ini bertujuan menyelaraskan narasi antara saksi, barang bukti, dan lingkungan tempat kejadian perkara.
Dekky ditemukan tewas pada Mei 2026 di kawasan Graha Darmo Satelit, yang menjadi lokasi utama kejadian. Penemuan jasadnya memicu kehebohan di kalangan warga sekitar, terutama karena kasus ini mengungkap kejahatan yang terjadi di lingkungan perkantoran. Rekonstruksi menjadi langkah penting untuk memperjelas motif dan pemicu pembunuhan tersebut.
Penjelasan dari Tersangka
Dalam rekonstruksi, Oktio meniru kejadian dari awal hingga akhir. Dia menjalani beberapa adegan yang menunjukkan interaksi dengan korban, serta tindakan-tindakan yang menyebabkan korban menerima luka berat. Penyidik meminta ia memperagakan setiap langkah secara teliti untuk memastikan keakuratan proses kejahatan. Dengan demikian, rekonstruksi menjadi alat untuk membangun narasi yang dapat dibandingkan dengan bukti-bukti lain.
Menurut AKP Hadi Ismanto, rekonstruksi ini adalah bagian dari upaya penyidik untuk mengungkap seluruh aspek kasus. "Adegan yang diperagakan mencakup kejadian dari tahap persiapan hingga puncak kejadian pembunuhan," imbuhnya. Dengan meniru alur kejadian, penyidik dapat mengidentifikasi kemungkinan pelaku melakukan tindakan kejahatan secara terencana.
Detail Lengkap Rekonstruksi
Kasus ini terjadi setelah Dekky Martyandi ditemukan tewas akibat luka tusuk pada Mei 2026. Rekonstruksi yang dilakukan pada Jumat (12/6) adalah bagian dari penyelidikan untuk memperjelas peristiwa yang memicu kematian korban. Tersangka Oktio Agra, yang sebelumnya diungkap sebagai pelaku, memeragakan 20 adegan dalam kurun waktu satu jam tiga puluh menit. Pemeragaan ini dianggap sebagai salah satu cara untuk melengkapi bukti-bukti yang sudah ada.
Unit Jatanras Sat Reskrim Polrestabes Surabaya terus mengejar proses investigasi secara menyeluruh. Rekonstruksi tidak hanya membantu memperjelas keterlibatan tersangka, tetapi juga memberikan gambaran tentang kejadian yang mungkin terjadi di luar bukti visual. Para penyidik memperhatikan setiap detail, seperti kondisi lingkungan, waktu kejadian, dan pola gerakan pelaku.
Rekonstruksi ini menunjukkan betapa seriusnya upaya pihak kepolisian dalam menyelidiki kasus pembunuhan. Dengan menggabungkan bukti-bukti yang ditemukan di lapangan, serta pemeragaaan oleh tersangka, penyidik berharap dapat membangun kasus yang kuat. Pihak kejaksaan juga berperan aktif dalam meninjau proses ini untuk memastikan kebenaran setiap adegan yang dipertontonkan.
Kasus Dekky Martyandi memicu perhatian publik terutama karena korban adalah seorang pekerja di lingkungan kantor yang terkenal. Para warga setempat merasa terkejut dan mengecam tindakan kejahatan tersebut. Rekonstruksi ini menjadi momen penting untuk memperjelas fakta sebelum memasuki tahap persidangan.
Menurut informasi yang didapat, Oktio Agra tidak hanya meniru adegan kejadian, tetapi juga menjelaskan kejadian tersebut secara lisan. Hal ini memberikan wawasan tambahan tentang alasan dan kondisi saat tindakan kejahatan dilakukan. Proses rekonstruksi juga memastikan bahwa setiap detail alur kejadian dapat diukur secara objektif oleh para penyidik.
Dengan menyelesaikan