Harga Pertamax Meroket – Omzet Pengusaha Pertashop di DIY Turun hingga 60 Persen
Harga Pertamax Meroket, Omzet Pengusaha Pertashop di DIY Turun hingga 60 Persen
Harga Pertamax Meroket - JOGYAKARTA - Pemerintah telah menaikkan harga bahan bakar minyak Pertamax pada 10 Juni 2026, dengan kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan ini memicu reaksi yang beragam dari masyarakat dan pengusaha, terutama di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak stabil. Paguyuban Pengusaha Pertashop Jawa Tengah dan DIY (P2PJD) pun merasakan dampak signifikan, dengan penurunan omzet yang cukup tajam.
Kenaikan Harga Pertamax dan Penurunan Omzet
Menurut Sekretaris Jenderal P2PJD, Gunadi Broto Sudarmo, kenaikan harga Pertamax tidak hanya menimbulkan kegundahan di kalangan konsumen, tetapi juga mengganggu keberlanjutan usaha pertashop. Ia mengungkapkan bahwa sebelum kenaikan harga diberlakukan, beberapa pertashop di DIY telah menunjukkan peningkatan penjualan, meski tidak terlalu signifikan. "Setelah harga Pertamax meningkat, terjadi penurunan omzet yang cukup parah. Di beberapa pertashop, penurunan tersebut mencapai sekitar 60 persen," jelas Gunadi, Jumat (12/6).
"Setelah harga Pertamax mengalami kenaikan, terjadi penurunan omzet yang cukup tajam. Bahkan di beberapa pertashop penurunannya mencapai sekitar 60 persen," kata Gunadi.
Dalam wawancara dengan JPNN.com Jogja, Gunadi menambahkan bahwa kenaikan harga ini semakin memperparah tekanan yang sudah ada terhadap sektor ritel bahan bakar. "Kondisi ini sangat berat bagi para pengusaha, terutama yang belum mampu menyesuaikan biaya operasional mereka," tuturnya. Menurutnya, penurunan penjualan yang drastis mengancam kelangsungan usaha pertashop, yang banyak beroperasi dalam skala kecil dan bergantung pada ketersediaan modal.
Kondisi Ekonomi dan Ketergantungan Pertashop
P2PJD mencatat bahwa sebelum kenaikan harga Pertamax, sekitar 30 persen dari jumlah pertashop di DIY sudah berhenti beroperasi. Angka tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi pengusaha bahan bakar selama beberapa bulan terakhir, di mana permintaan terus menurun akibat daya beli masyarakat yang lesu. Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026, menurut Gunadi, mempercepat proses penutupan usaha ini, karena para pengusaha sulit mempertahankan keuntungan dengan harga bahan bakar yang terus meningkat.
Masyarakat juga merasakan dampak langsung dari kenaikan harga Pertamax. Banyak pengendara menyebutkan bahwa biaya bahan bakar yang lebih mahal membuat mereka harus mempertimbangkan pengeluaran secara lebih ketat. "Saya kira masyarakat sebenarnya sudah terbiasa dengan kenaikan harga, tetapi ini terasa lebih berat karena terjadi secara tiba-tiba," ujar salah satu pengendara, yang enggan disebutkan nama, saat diwawancarai di kawasan Jalan Malioboro.
Respons dari P2PJD dan Harapan Masa Depan
Gunadi menyatakan bahwa P2PJD sedang berupaya untuk memberikan solusi agar para pengusaha pertashop tidak terus terpuruk. Salah satu langkah yang diambil adalah meminta pemerintah untuk mempertimbangkan pengurangan beban biaya operasional, termasuk pajak yang diterapkan. "Kita harap ada kebijakan yang bisa membantu mengurangi tekanan ini, agar bisnis pertashop tetap bisa bertahan di tengah krisis ekonomi," tuturnya.
Dalam laporan terbaru, P2PJD juga menyoroti peran penting pertashop dalam menjaga stabilitas pasokan bahan bakar di daerah. Meski jumlah pengusaha yang tutup meningkat, pertashop yang masih beroperasi tetap menjadi sumber pendapatan bagi sejumlah warga, terutama di pedesaan. "Selain itu, pertashop juga menjadi tempat pertemuan komunitas, seperti pengendara sepeda motor dan mobil," kata Gunadi.
Analisis dan Dampak Jangka Panjang
Kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026 menjadi momen kritis bagi pertashop, terutama di tengah fluktuasi harga bahan bakar yang sering terjadi. Banyak pengusaha bahan bakar merasa bahwa kenaikan ini kurang diimbangi dengan peningkatan kebijakan subsidi atau bantuan dari pemerintah. Gunadi menekankan bahwa kebijakan harga bahan bakar harus disesuaikan dengan kondisi perekonomian daerah, terutama di wilayah dengan tingkat kemacetan dan kepadatan lalu lintas yang tidak sebesar kota besar.
Dalam konteks ini, pertashop di DIY dikenal memiliki kapasitas pengisian yang lebih kecil dibandingkan pertashop di kota-kota besar. Karena itu, penurunan omzet yang mencapai 60 persen dalam beberapa hari terakhir dianggap sangat signifikan. Gunadi mengungkapkan bahwa P2PJD juga sedang berdiskusi dengan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi, seperti menggandeng perusahaan besar untuk menyalurkan bahan bakar dengan harga lebih kompetitif.
Menurut data yang dirilis oleh P2PJD, pertashop yang masih beroperasi sebagian besar mengalami penurunan penjualan hingga 40-50 persen. Meski demikian, beberapa pertashop yang berada di area strategis atau memiliki sistem pemesanan online mampu mempertahankan level penjualan yang lebih baik. "Kita perlu memperkuat sistem pemasaran dan menjaga kualitas layanan, agar bisa bertahan di tengah persaingan yang ketat," saran Gunadi.
Perbandingan dengan Wilayah Lain
Gunadi juga membandingkan situasi pertashop DIY dengan daerah lain di Jawa Tengah. Ia mengatakan bahwa beberapa kota besar, seperti Semarang dan Surakarta, masih mampu mempertahankan omzet karena memiliki akses yang lebih mudah terhadap bahan bakar dan konsumen yang lebih banyak. "Sementara di Jogja, jumlah pertashop yang beroperasi sedikit dan mereka tergantung sepenuhnya pada kebijakan harga bahan bakar," ujarnya.
Di sisi lain, Gunadi menyoroti bahwa kenaikan harga Pertamax tidak hanya memengaruhi pengusaha, tetapi juga masyarakat umum. "Saya kira pengaruhnya terasa jelas, terutama bagi warga yang mengandalkan transportasi sepeda motor. Mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk bahan bakar, yang berdampak pada pengeluaran sehari-hari," jelasnya. Dengan demikian, kenaikan harga ini tidak hanya menjadi isu bagi pertashop, tetapi juga menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Sebagai upaya mengatasi situasi ini, P2PJD juga mengajak masyarakat untuk menggunakan bahan bakar alternatif, seperti Pertalite atau Solar, sebagai pengganti Pertamax. "Kita berharap ada peningkatan kesadaran masyarakat akan penggunaan bahan bakar lain, sehingga bisa mengurangi beban para pengusaha pertashop," pungkas Gunadi. Dengan demikian, P2PJD terus berusaha memastikan bahwa usaha pertashop tidak benar-benar tenggelam di tengah kenaikan harga yang terus berlangsung.
Menurut Gunadi, kenaikan harga Pertamax juga menjadi cerminan kebijakan pemerintah yang perlu lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. "Kita berharap kebijakan ini bisa diiringi dengan kebijakan lain, seperti subsidi untuk pengusaha ke