Facing Challenges: Pemkot Yogyakarta Berencana Datangkan Perahu Ketinting dari Kalimantan
Pemkot Yogyakarta Berencana Datangkan Perahu Ketinting dari Kalimantan
Facing Challenges - Yogyakarta, JPNN.com – Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Jogja) tengah menguji coba metode baru untuk menyisir aliran sungai. Uji coba ini dilakukan pada Jumat (12/6) lalu, dengan menggunakan perahu bermotor untuk mengarungi Sungai Winongo. Tujuan utama dari aktivitas tersebut adalah untuk menjaga kebersihan dan kondisi sungai secara lebih efektif. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turut mengikuti langsung kegiatan tersebut, menjelajahi aliran air di daerah tersebut dengan perahu yang telah dipersiapkan.
Langkah Baru dalam Pengelolaan Sungai
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Jogja untuk meningkatkan kualitas lingkungan perairan. Dalam pernyataannya, Hasto menjelaskan bahwa perahu bermotor akan digunakan oleh petugas patroli untuk mengontrol kebersihan dari bagian hulu hingga hilir Sungai Winongo. “Penggunaan perahu ini bisa menjadi solusi dalam mengoptimalkan tugas pengawasan dan pembersihan sungai,” ujarnya.
“Sambil jalan setelah itu, mungkin satu dua ada wisatawan yang bisa ikut menikmati sungai di Kota Yogyakarta. Sambil bersih-bersih kemudian akhirnya kita bisa nikmati,” kata Hasto.
Walau demikian, Hasto menyebutkan bahwa jenis perahu bermotor yang digunakan masih memerlukan penyesuaian. “Karena kondisi Sungai Winongo cukup dangkal, perahu yang terlalu besar bisa mengganggu alur air dan keselamatan pengguna,” tambahnya. Menurutnya, solusi jangka panjang adalah memperkenalkan perahu ketinting, yang lebih cocok untuk kondisi sungai seperti ini. “Jika perahu sudah cocok, tinggal mesinnya saja yang nanti kami sesuaikan,” imbuhnya.
Perahu ketinting, yang menjadi fokus perhatian Pemkot Jogja, merupakan jenis kapal tradisional yang umum ditemukan di Kalimantan. Kapal ini biasanya dirancang untuk mengarungi sungai kecil dengan kedalaman terbatas, sehingga lebih ringan dan mudah bergerak di permukaan air yang tidak terlalu dalam. Hasto menjelaskan bahwa ide ini muncul dari pengalaman pribadinya saat bertugas sebagai dokter di puskesmas pedalaman Kalimantan. “Saya pernah menaiki perahu ketinting di kondisi sungai yang dangkal dan sempit. Kapal tersebut sangat efektif untuk kegiatan pengawasan dan transportasi,” katanya.
Analisis Kondisi Sungai dan Perahu yang Sesuai
Menurut Hasto, perahu bermotor yang digunakan saat ini kurang efektif karena ukurannya tidak sesuai dengan karakteristik Sungai Winongo. “Perahu besar bisa menyebabkan gangguan pada ekosistem sungai, terutama di area yang sempit,” jelasnya. Untuk mengatasi masalah ini, Pemkot Jogja berencana mengimpor perahu ketinting dari Kalimantan, yang memiliki desain lebih ringan dan mampu beradaptasi dengan aliran air yang tidak stabil.
Hasto juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan daerah asal perahu ketinting, yaitu Kalimantan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sedang berdiskusi dengan pemerintah setempat untuk memastikan jenis perahu yang tepat dan proses pemesanan yang lancar. “Kita perlu memastikan perahu tersebut tidak hanya mampu berfungsi sebagai alat patroli, tetapi juga bisa menjadi sarana ekowisata yang menarik bagi masyarakat dan turis,” tambahnya.
“Kalau di sini enggak ada, terpaksa beli di Kalimantan,” kata Hasto.
Dalam konteks ini, perahu ketinting bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari budaya lokal yang bisa dikelola secara modern. Hasto berharap dengan mengadopsi perahu ini, Pemkot Jogja bisa menciptakan program yang lebih berkelanjutan dan menggabungkan pelestarian lingkungan dengan pengembangan pariwisata. “Sungai Winongo memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata alam yang ramah lingkungan, asalkan kita mengelolanya dengan tepat,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, uji coba ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang efektivitas perahu ketinting dalam berbagai kondisi sungai. Hasto menyebutkan bahwa pihaknya akan terus memantau hasil dari penggunaan perahu tersebut sebelum memutuskan untuk memperluas program ini ke sungai lain di Kota Yogyakarta. “Kita perlu mengevaluasi setiap tahap agar bisa memperbaiki strategi dan memberikan manfaat maksimal,” katanya.
Potensi Kembangan Ekowisata dan Lingkungan
Dalam pandangan Hasto, penggunaan perahu ketinting tidak hanya memudahkan tugas patroli, tetapi juga bisa mengundang minat wisatawan untuk menjelajah aliran sungai. “Wisatawan bisa ikut serta dalam kegiatan pembersihan, sehingga mereka tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ini bisa menjadi model baru dalam menggabungkan pelestarian lingkungan dengan promosi pariwisata.
Hasto juga mengungkapkan bahwa perahu ketinting akan diperbaiki secara teknis untuk memenuhi kebutuhan operasional di Yogyakarta. “Mesinnya nanti bisa disesuaikan dengan kondisi sungai lokal, sehingga perahu tetap bisa berjalan optimal,” katanya. Selain itu, perahu ini juga diharapkan lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan bakar yang lebih hemat dibandingkan perahu bermotor konvensional.
Dalam beberapa bulan terakhir, Pemkot Jogja telah mengadakan beberapa diskusi dengan ahli perahu dan warga Kalimantan untuk mempelajari lebih lanjut tentang desain dan fungsionalitas perahu ketinting. Ia menyebutkan bahwa upaya ini tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk mengenalkan budaya lokal Kalimantan ke Kota Yogyakarta. “Perahu ini bisa menjadi jembatan antara dua wilayah yang berbeda, sekaligus menjaga kebersihan aliran sungai,” ujarnya.
Selain itu, Hasto berharap penggunaan perahu ketinting bisa menginspirasi warga lokal untuk lebih peduli terhadap lingkungan. “Dengan melibatkan masyarakat, kita bisa membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga sungai,” katanya. Ia menegaskan bahwa ini adalah bagian dari kebijakan jangka panjang Pemkot Jogja dalam mengelola sumber daya air secara lebih berkelanjutan.
Dalam perjalanan ini, Pemkot Jogja juga berencana melibatkan komunitas lokal untuk ikut serta dalam kegiatan penyisiran dan pembersihan. “Kita akan membuat program kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat,” katanya. Dengan adanya perahu yang lebih sesuai, Hasto optimis bahwa tugas pengawasan sungai bisa lebih efektif dan berkelanjutan. “Harapannya, kita bisa menjaga kebersihan aliran sungai sambil menikmati keindahan yang ada di dalamnya,” pungkasnya.
Reporter: M. Sukron Fitriansyah | Redaktur: Januardi Husin
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News.