PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: DP3APPKB Surabaya Dampingi Atlet Korban Pelecehan, Soroti Pentingnya Peran Ayah

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Susan Hernandez

DP3APPKB Surabaya Berikan Dukungan kepada Atlet Korban Pelecehan, Emphasize Peran Ayah dalam Perlindungan Anak

Key Strategy - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya terus berupaya memberikan bantuan kepada seorang atlet yang diduga menjadi korban pelecehan oleh pelatihnya, JL. Sebagai bagian dari upaya perlindungan anak, lembaga ini melakukan pendampingan untuk memastikan keadilan diberikan kepada korban. Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati, menjelaskan bahwa proses pendampingan mencakup pemahaman menyeluruh terhadap kondisi dan pengalaman korban. "Dalam kasus ini, kami mengambil langkah-langkah untuk mendengarkan narasi korban secara intensif, agar semua pihak dapat memahami dinamika yang terjadi," tuturnya, Jumat (12/6).

Kasus Pelecehan yang Memicu Perhatian

Kasus pelecehan yang menimpa atlet Perbakin ini telah menarik perhatian DP3APPKB Surabaya. Sebagai lembaga yang fokus pada perlindungan anak, DP3APPKB melibatkan diri dalam proses penyelidikan dan penanganan kasus tersebut. "Kami menemukan bahwa salah satu faktor penting dalam kejadian ini adalah kurangnya perhatian dari orang tua korban, khususnya ayahnya," tambah Ida. Menurutnya, ayah korban yang sibuk bekerja sering kali tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersosialisasi dengan anaknya. "Karena itu, peran ayah dalam mengawasi dan membangun hubungan emosional dengan anak menjadi sangat krusial," jelas Ida.

"Kami menyampaikan ke orang tua bahwa di korban ini terdapat sosok yang hilang. Ayahnya terlalu sibuk, jadi jaraknya dengan anak jadi jauh," kata Ida Widayati.

Kasus ini juga mengungkapkan bagaimana korban, seorang anak yang muda, mulai menerima pengaruh dari pelatih yang dikaguminya, JL. Dengan kesibukan ayah, korban cenderung mengandalkan pelatih sebagai figur yang menjadi panutan. "Pendampingan yang kami lakukan melibatkan edukasi kepada korban serta orang tuanya, agar mereka bisa memahami kesalahan dan menyesal," ujar Ida. Ia menekankan bahwa edukasi ini tidak hanya tentang kejadian yang terjadi, tetapi juga cara mencegahnya di masa depan.

Peran Ayah sebagai Penentu Dukungan Keluarga

Dalam konteks kasus ini, Ida Widayati menyoroti peran ayah sebagai bagian dari sistem perlindungan di dalam keluarga. Menurutnya, keberadaan ayah yang aktif dan berperan dalam kehidupan anak bisa menjadi penangkal terhadap potensi pelecehan atau kesalahan lainnya. "Ayah memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi anak, termasuk melalui komunikasi dan kehadiran yang konsisten," jelas Ida. Ia menjelaskan bahwa pelatih JL, yang sebelumnya dianggap sebagai sosok positif oleh korban, menjadi bagian dari dinamika keluarga yang terganggu.

"Ayah itu penting banget, karena itu bisa menjadi penyangga bagi anak-anak. Kalau ayah tidak hadir, anak lebih rentan pada pengaruh negatif dari luar," tambah Ida.

Kasus ini juga mengingatkan pentingnya kesadaran orang tua terhadap kebutuhan anak. Ida menyatakan bahwa dalam banyak kasus, orang tua cenderung fokus pada aspek materi dan pekerjaan, sehingga mengabaikan komunikasi emosional yang menjadi fondasi dalam pengasuhan anak. "Kami mengajak orang tua untuk lebih proaktif dalam mendengarkan anak, agar mereka bisa mendeteksi tanda-tanda kejadian sejak dini," jelasnya. Selain itu, DP3APPKB juga berupaya membangun kesadaran pelatih dan masyarakat terhadap tugas dan tanggung jawab dalam membentuk karakter anak.

Emosi Korban dan Harapan Masa Depan

Menurut Ida, korban dalam kasus ini merasa menyesal dan kecewa setelah mengetahui bahwa pelatih yang dianggapnya sebagai panutan ternyata melakukan pelecehan. "Anak ini merasa bahwa seseorang yang ia percayai dan kagumi justru menjadi sumber masalah," ujarnya. Ida menuturkan bahwa rasa menyesal dan kecewa ini sering kali muncul karena harapan anak pada pelatih tidak terpenuhi. "Korban menyatakan kekecewaannya, karena ia tidak menyangka bahwa sosok yang ia kagumi bisa berperilaku demikian," lanjut Ida.

Kasus ini menjadi pembelajaran bagi banyak pihak, termasuk orang tua dan pelatih. Ida menyatakan bahwa selain memberikan dukungan kepada korban, DP3APPKB juga berkomitmen untuk memberikan pelatihan dan edukasi lebih lanjut kepada pelatih serta orang tua. "Kami ingin membangun kesadaran bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi melibatkan seluruh keluarga," tuturnya. Ia menambahkan bahwa kesadaran ini sangat penting untuk mencegah kasus serupa terjadi di masa depan.

Upaya Peningkatan Kesadaran dan Perlindungan

Sebagai bagian dari upaya peningkatan kesadaran, DP3APPKB Surabaya juga menggandeng komunitas lokal dan media untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya peran ayah dalam perlindungan anak. "Kami berharap dengan adanya kasus ini, orang tua bisa lebih waspada dan aktif dalam melibatkan diri dalam kehidupan anak," kata Ida. Ia menekankan bahwa perlindungan anak memerlukan kolaborasi yang baik antara pihak keluarga, pelatih, dan masyarakat. "Kami juga berupaya mendorong pelatih untuk menjadi contoh yang baik, karena mereka memiliki pengaruh besar dalam membentuk generasi muda," jelasnya.

Kasus pelecehan yang menimpa atlet Perbakin ini menjadi salah satu contoh nyata tentang bagaimana kesibukan orang tua bisa memicu risiko terhadap anak. Dengan adanya pendampingan dari DP3APPKB, korban diberi ruang untuk menyampaikan perasaannya, serta mendapatkan edukasi untuk memperkuat kepercayaan diri dan kemampuan mengekspresikan kebutuhan mereka. "Kami percaya bahwa melalui pendampingan yang tepat, anak bisa kembali percaya pada lingkungan sekitarnya," tutur Ida. Ia menambahkan bahwa DP3APPKB Surabaya akan terus berupaya memberikan perlindungan yang optimal, baik untuk korban maupun anak-anak lain yang berpotensi mengalami masalah serupa.

Kasus ini juga mengingatkan masyarakat bahwa pelatih atau figur penuntun seharusnya memiliki komitmen yang jelas terhadap keadilan dan kesejahteraan anak. "Pelatih adalah bagian dari sistem pendidikan, jadi mereka harus mampu menjaga kepercayaan anak," kata Ida. Ia berharap bahwa melalui proses pendampingan ini, korban bisa pulih dan kembali membangun hubungan yang sehat dengan orang tua serta lingkungan sekitarnya. "Kami juga ingin menegaskan bahwa peran ayah tidak bisa diabaikan, karena itu merupakan bagian penting dalam membangun keluarga yang harmonis dan berakar pada kasih sayang," tutupnya.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News.