PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: 33 Siswa SLB Negeri Depok Belajar Jadi Barista, Siap Hadapi Dunia Kerja

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Michael Taylor

33 Siswa SLB Negeri Depok Mengikuti Pelatihan Barista untuk Tingkatkan Kemandirian

New Policy - Di Kota Depok, sebuah inisiatif penting dilakukan untuk membantu penyandang disabilitas dalam memasuki dunia kerja. Sebanyak 33 siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Depok terlibat dalam program pelatihan keterampilan industri makanan dan minuman, yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang kopi serta memperkuat prospek sosial dan ekonomi. Kegiatan ini dianggap sebagai langkah strategis dalam menciptakan kesempatan kerja yang inklusif bagi para peserta, sekaligus membuka jalan bagi usaha mandiri.

Kolaborasi Lintas Instansi Dorong Inklusi Sosial

Program pelatihan ini merupakan hasil sinergi antara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Yayasan Sunyi Harapan Indonesia (Sunyi Academy), Ford Foundation, dan Pemerintah Kota Depok. Kemitraan tersebut diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana kerja sama berbagai pihak dapat menghasilkan solusi untuk memajukan kesejahteraan penyandang disabilitas. Dalam upaya ini, Kemendagri berperan sebagai penggerak utama, sementara lembaga pendidikan dan organisasi internasional memberikan dukungan teknis dan sumber daya.

Keberhasilan program ini didukung oleh kehadiran tim dari Dharma Wanita Persatuan (DWP), yang bertugas memastikan partisipasi dan keterlibatan pihak pemangku kepentingan. Dilla Baso Indra, Ketua DWP Unit Kerja Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, menjelaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar sebagai penonton, tetapi juga sebagai pendukung moral dan pendorong bagi para peserta. "Kehadiran kami di tengah-tengah para peserta SLB Negeri Kota Depok bertujuan untuk memberikan dorongan semangat dan membantu mereka merasa lebih percaya diri dalam menghadapi dunia kerja," ujar Dilla.

"Kami hadir di tengah-tengah adik-adik SLB Negeri Kota Depok untuk memberikan dukungan moral dalam kegiatan pelatihan barista," kata Dilla. Dalam pandangan Dilla, program ini menjadi bukti bahwa keterampilan yang diajarkan tidak hanya memperkuat kemampuan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan melatih jiwa kewirausahaan para peserta. Ia menekankan bahwa sinergi lintas sektor menjadi faktor utama dalam mewujudkan inisiatif ini, karena keberhasilan program membutuhkan kontribusi berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Kegiatan pelatihan barista ini dirancang dengan pendekatan praktis, di mana peserta belajar teknik menyeduh kopi, cara mengoperasikan mesin espresso, dan aspek layanan pelanggan. Selain itu, mereka juga diberikan pemahaman tentang dasar-dasar bisnis kecil dan menengah, termasuk manajemen waktu, penghitungan uang, dan interaksi dengan konsumen. Dengan kurikulum yang disesuaikan, para siswa tidak hanya menguasai keterampilan operasional, tetapi juga mampu mengembangkan rasa ingin tahu serta kemampuan adaptasi dalam lingkungan kerja yang dinamis.

Peluang Karier di Sektor Kopi

Menurut Dilla, program ini membuka peluang karier yang lebih luas bagi penyandang disabilitas, khususnya dalam bidang pengolahan kopi. "Harapan kami, program ini dapat memberdayakan adik-adik SLB Negeri Kota Depok agar memiliki keterampilan dan prospek yang lebih baik di industri makanan dan minuman," lanjutnya. Dengan menekankan keterampilan kopi, pelatihan ini bertujuan menjawab kebutuhan pasar yang semakin banyak menuntut tenaga kerja yang terampil dan mampu bekerja dalam lingkungan kompetitif.

Kolaborasi antara Kemendagri, Yayasan Sunyi, Ford Foundation, dan Pemkot Depok tidak hanya menghasilkan program pelatihan, tetapi juga mendorong pengembangan pola pikir inklusif dalam masyarakat. Dilla menilai bahwa keberhasilan program ini akan berdampak jangka panjang, karena peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri untuk menjalani hidup secara mandiri. Selain itu, program ini menjadi langkah awal dalam mengurangi stigma terhadap penyandang disabilitas, sekaligus menunjukkan bahwa mereka mampu berkontribusi dalam sektor ekonomi.

Menurut rencana, program ini akan diulang dalam beberapa tahap, dengan jumlah peserta yang ditingkatkan secara bertahap. Dilla berharap bahwa setelah menyelesaikan pelatihan, para siswa bisa langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui kerja di kafe lokal maupun pengembangan usaha sendiri. "Kami percaya bahwa keterampilan ini tidak hanya memperluas jalan mereka, tetapi juga menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih bermakna," tuturnya.

Pelatihan ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain, terutama dalam membangun model pemberdayaan yang terjangkau dan efektif. Dengan kehadiran pihak swasta dan lembaga internasional, Dilla menilai bahwa program ini mampu memberikan dampak lebih besar daripada jika hanya bergantung pada sumber daya lokal. "Sinergi ini menunjukkan bahwa pemberdayaan penyandang disabilitas bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama," ujarnya.

Dari sisi praktis, pelatihan barista ini memberikan nilai tambah bagi peserta dalam berbagai aspek. Selain meningkatkan keterampilan praktis, mereka juga belajar cara berkomunikasi dengan pelanggan, mengelola stres, serta mengembangkan rasa percaya diri. Dilla menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk pengakuan terhadap kemampuan para penyandang disabilitas, yang seringkali dianggap kurang dalam dunia kerja. "Kami ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya bisa mengikuti pelatihan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari industri yang produktif," tutupnya.

Dengan hasil pelatihan yang berkualitas, para siswa SLB Negeri Depok diharapkan dapat memperoleh pekerjaan tetap atau menjalankan usaha sendiri di bidang kopi. Program ini juga menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif, yang memberikan ruang bagi semua individu, termasuk penyandang disabilitas, untuk berkembang secara maksimal. Dilla menyatakan bahwa inisiatif ini akan terus ditingkatkan, baik melalui pelatihan tambahan maupun pemberdayaan ekonomi yang lebih luas.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News.