PesonaTropis
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Mengenal Biodiversitas Perkotaan Lewat Instalasi Kreatif dari Sampah Daur Ulang

Published Juni 21, 2026 · Updated Juni 21, 2026 · By Michael Taylor

Mengenal Biodiversitas Perkotaan Lewat Instalasi Kreatif dari Sampah Daur Ulang

Latest Program - Kota Bandung kini menjadi sorotan dalam upaya mempromosikan keanekaragaman hayati di lingkungan perkotaan. Sebuah pameran instalasi bertajuk 'BiodiverCity' yang digelar oleh Yayasan KEHATI dan Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari (Tunas Nusa) menawarkan pandangan baru tentang keterlibatan satwa dan tumbuhan dalam kehidupan kota. Instalasi ini menjadi wadah edukasi untuk menggambarkan urban biodiversity, konsep yang sering kali dianggap sebagai bagian terabaikan dalam perhatian lingkungan. Dengan menggunakan bahan-bahan daur ulang, pameran ini menunjukkan bahwa kehidupan alami bisa eksis bahkan di tengah hiruk pikuk aktivitas manusia.

Kota Sebagai Tempat Keanekaragaman Hayati

Di tengah kesan bahwa keanekaragaman hayati hanya terkait dengan hutan, gunung, atau kawasan konservasi, 'BiodiverCity' mengajak masyarakat melihat kota sebagai ekosistem yang juga menyimpan keanekaragaman hayati. Pameran ini dirancang sebagai ruang untuk mengedukasi tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan, yang selama ini kurang mendapat perhatian dari publik. Ramalis Sobandi, pendiri Yayasan Pilar Tunas Nusa, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari program restorasi biodiversitas yang telah dimulai sejak Juli 2025 di Kota Bandung.

"Ini yang pertama di Indonesia oleh Yayasan KEHATI. Biasanya fokusnya di hutan, mangrove, atau bambu. Kali ini yang menjadi perhatian adalah kota," kata Ramalis kepada JPNN di Bandung Creative Hub (BCH), Jalan Laswi, Kota Bandung, Minggu (21/6/2026).

Menurut Ramalis, pameran ini muncul dari hasil riset biodiversitas perkotaan yang dilakukan dengan pendekatan citizen science, yaitu melibatkan warga secara aktif dalam proses pendataan. Metode ini memungkinkan masyarakat menyumbangkan data mereka, baik melalui pengamatan langsung maupun kontribusi kreatif. Hasil riset tersebut lalu diubah menjadi bentuk instalasi yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas. Dengan menggabungkan seni dan sains, inisiatif ini mencoba menarik perhatian warga akan pentingnya keanekaragaman hayati di lingkungan urban.

Salah satu keunikan dari pameran ini adalah penggunaan bahan daur ulang sebagai medium utama. Sebagian besar karya dibuat dari limbah seperti botol plastik, kardus, kantong kresek, bubble wrap, serta kertas bekas. Ramalis menjelaskan, keputusan untuk menggunakan bahan daur ulang bertujuan mengedukasi masyarakat tentang dampak lingkungan dari penggunaan bahan-bahan sekali pakai. "Kami ingin menunjukkan bahwa sampah bisa diubah menjadi ruang untuk memahami keanekaragaman hayati," katanya.

Peran Siswa dalam Membangun Ekosistem Perkotaan

Pameran ini tidak hanya menyajikan instalasi, tetapi juga melibatkan pelajar dari berbagai jenjang. Siswa Sekolah Dasar (SD) membuat replika kupu-kupu yang menggambarkan keberadaan serangga pemangsa di lingkungan perkotaan. Sementara itu, pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) menghadirkan beragam serangga, seperti lalat, semut, dan belalang, dalam bentuk karya seni. Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) pula turut berkontribusi dengan menciptakan replika burung yang sering terlihat di kota, seperti burung camar dan burung bangkai.

Ramalis mengatakan, kerja sama dengan pelajar menjadi cara untuk melibatkan generasi muda dalam pelestarian lingkungan. "Kami ingin mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa keanekaragaman hayati tidak hanya ada di hutan, tetapi juga di sekitar rumah mereka," ujarnya. Melalui pameran ini, para siswa belajar bagaimana memanfaatkan bahan daur ulang untuk menciptakan bentuk-bentuk hidup yang ada di lingkungan kota. Proses ini juga memperkaya pemahaman mereka tentang hubungan antara manusia dan ekosistem alami.

Keberadaan 'BiodiverCity' juga menginspirasi masyarakat untuk berpikir kritis tentang bagaimana kota bisa menjadi habitat yang layak bagi keanekaragaman hayati. Dengan menggunakan bahan daur ulang, pameran ini menunjukkan bahwa lingkungan perkotaan bukan hanya tempat kehidupan manusia, tetapi juga bisa menjadi tempat kehidupan serangga, tumbuhan, dan hewan lainnya. Ramalis menekankan bahwa inisiatif ini adalah langkah awal dalam menciptakan ekosistem perkotaan yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai contoh, instalasi kupu-kupu yang dibuat oleh siswa SD menampilkan bagaimana serangga ini bisa hidup dalam kondisi kota, seperti di antara bangunan atau di atas atap. Sementara itu, serangga-serangga yang dihadirkan oleh SMP memperlihatkan keberagaman spesies yang terlibat dalam siklus hidup di kota. Replika burung dari SMA justru menggambarkan bagaimana migrasi atau perubahan lingkungan bisa memengaruhi populasi burung di perkotaan.

Pameran ini juga diharapkan menjadi wadah untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya keanekaragaman hayati di lingkungan urban. Dengan memadukan seni, sains, dan kepedulian lingkungan, 'BiodiverCity' membuktikan bahwa kota bisa menjadi bagian dari ekosistem alami yang seimbang. Ramalis menyebutkan bahwa inisiatif ini tidak hanya untuk mengedukasi, tetapi juga untuk memberi ruang bagi masyarakat berpartisipasi dalam menjaga lingkungan di sekitar mereka.

Sebagai penutup, pameran 'BiodiverCity' menjadi bukti bahwa kota bukanlah musuh alam, tetapi bisa menjadi bagian dari kehidupan alami. Dengan menggabungkan kreativitas dan kepedulian, pameran ini berharap masyarakat mulai memahami bahwa keanekaragaman hayati perkotaan perlu diperhatikan secara lebih serius. Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jabar di Google News untuk mengetahui lebih lanjut tentang inisiatif-inisiatif serupa di berbagai kota lain.